durian (1)

Antara Durian dan E-Learning

durian (1)

Jumat, 13 Maret 2015
@OmFifik @papahnyaabie

Apa bedanya durian dan e-learning?! Hayoo, siapa yang bisa jawab?!😛

Selasa, 10 Maret 2015, kemarin saya bertemu dengan para mahasiswa untuk pertemuan pertama perkuliahan e-learning. Mahasiswa yang mengontrak di kelas saya bisa digolongkan ke para mahasiswa yang sudah menemukan kesenangan dan gaya belajar mereka masing-masing, sehingga curiossity dan spirit mereka dalam belajar gak perlu ditanyakan lagi. Apapun materinya, lahap dan kuasai.

Di pertemuan pertama ini, saya berencana memperkenalkan proses perkuliahan selama satu semester kedepan dan sedikit tentang orientasi mengenai e-learning. Selama satu semester kedepan, saya informasikan, mereka akan berperan sebagai seorang analist dan developer e-learning. Wow! Rasa kaget dan penasaran pun terlihat dari wajah-wajah mereka yang sangat bisa saya bilang percaya diri dan bersemangat.

Dalam satu semester saya rancang pengalaman yang mereka akan selalu ingat. intinya adalah mereka benar-benar menganalisis kebutuhan guru di sekolah atau dosen di kampus untuk diwujudkan dalam satu program e-learning. Mereka yang bertindak sebagai analist dan developer akan bertemu para klien untuk menentukan spesifikasi e-learning yang dibutuhkan guru ataupun dosen.

Selain itu, bukan hanya sebagai analist dan developer saja, mereka juga harus mencoba mengimplementasikan program e-learning yang mereka kembangkan dalam simulasi nyata bersama para murid atau mahasiswa yang menjadi subjek pengembangan e-learning mereka. Jika sudah punya hasil, darisana mereka bisa belajar tentang bagaimana mengembangkan e-learning secara komprehensif sesuai dengan kebutuhan para klien.

Kenapa ini dilakukan?! Bukan mau menghindarkan mereka dari teori atau konsep yang verbalistik, hanya saja saya ingin mereka menemukan pemahaman yang mendalam dari konsep-konsep yang ada dalam e-learning melalui pengalaman nyata mereka di lapangan bersama klien.

Lalu, apa hubungannya durian dan e-learning

Hehe… Jadi, waktu pertemuan pertama itu, selain orientasi mata kuliah selama satu semester, juga disampaikan pengantar e-learning. Nah, analoginya ya durian itu. Dalam proses pengembangan e-learning, prinsip cheaper, faster, dan better adalah ketiga hal yang tidak bisa ditinggalkan dalam strategi pengembangan e-learning. Setiap analyst dan developer haruslah memiliki prinsip bahwa platform beserta isi dan proses didalam e-learning haruslah dikembangkan dengan lebih murah, lebih cepat, dan lebih baik dibanding produk lainnya.

Untuk memperkenalkan ketiga prinsip tersebut, maka saya memperkenalkan mereka melalui simulasi penyelesaian masalah. Durian adalah masalah dalam simulasi ini. Diceritakan bahwa ada satu pohon durian yang tinggi, dimana dibagian atasnya terdapat banyak buah durian yang matang. Tugas mereka adalah untuk mengambil salah satu buah durian tersebut. Tapi rintangannya adalah, di batang pohon tersebut banyak sekali semut merah yang siap menggigit, jika mereka memanjat.

Untuk menyelesaikan masalah itu, mereka diberikan modal beberapa benda yang ‘sepertinya’ tidak ada hubungannya dengan tujuan tersebut. Benda-bendanya adalah: laptop, modem USB, karet gelang, sepeda motor, minyak kayu putih, foto ‘ariel noah’, smartphone, TV, dan radio. Nah, benda-benda itulah yang mereka akan gunakan untuk mengambil durian di atas pohon tadi. Mereka dipersilahkan untuk menggunakan satu atau seluruh alat yang ada untuk mengambil durian.

Kelas pun dibagi menjadi tujuh kelompok. Mereka pun mulai mendiskusikan caranya masing-masing. Kurang lebih 15 menit mereka mencari cara untuk mengambil durian tersebut tanpa mengalami rasa sakit disekujur tubuh akibat gigitan semut merah. Kemudian waktunya mereka persentasi hasil diskusi mereka.

Apa yang terjadi?! Gokilll! Cara-caranya aneh-aneh, ada yang ngusir semut pake suara bising sepeda motor, ada yang ngundang semutnya ke bawah dengan cara nonton konser Ariel, dan lain-lain. Hampir semua kelompok memanfaatkan seluruh benda yang disediakan. Hanya dua kelompok yang menggunakan 1 dan 2 alat saja.

Setelah itu, barulah kesimpulan diambil. Kesimpulannya adalah semakin banyak mereka menggunakan alat-alat yang ada untuk mengambil durian maka semakin komplekslah proses pengambilan durian tersebut, semakin mahal juga biaya yang harus dikeluarkan, dan semakin lama juga durian akan bisa diambil. Tapi semakin sedikit mereka menggunakan alat untuk mengambil durian maka prinsip cheaper, faster, dan better akan tercapai.

Nah, begitu juga pengembangan e-learning. Sebisa mungkin memanfaatkan komponen yang lebih sedikit tapi sesuai jkebutuhan, hingga tercapai prinsip cheaper, faster, dan better.🙂

Selamat minum Jus Alpukat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s