kurikulum-2013

3 Dimensi Kurikulum 2013 yang Membingungkan.

Membingungkan?! Ya, memang benar, karena membingungkan adalah ciri utama kurikulum (Hilda Taba, 1962). Berubah adalah kata kedua yang mendukung sifat pertama dari kurikulum. Maka lengkaplah sudah usaha yang harus dijalankan oleh para pendidik dalam menerjemahkan kurikulum baku yang membingungkan dan berubah itu, menjadi proses pembelajaran di dalam kelas yang juga kadang membingungkan dan slalu berubah.

Dari hasil sedikit baca-baca artikel di media, saya sedikit mengambil poin penting berkenaan dengan ‘gosip panas’ penerapan kurikulum 2013 yang penuh intrik dan polemik. Ada tiga pendekatan (dimensi) yang rencananya diberlakukan dalam penerapan kurikulum 2013 nanti, yaitu:

  1. pengembangan kompetensi  guru untuk meningkatkan efektifitas hasil belajar.
  2. perpanjangan wajib belajar, yang dari 9 tahun menuju 12 tahun (artinya hingga pendidikan menengah tuntas). dan
  3. perpanjangan lama belajar, yang awalnya selesai di siang hari, menjadi sore hari.

Dari tiga poin di atas, manakah yang paling susah anda terima?😀
Kalau dari pandangan saya yang pas-pasan. Ketiga rencana ini kurang mendukung satu sama lain. Misalkan saja, hasil belajar memiliki 3 dimensi utama, yaitu efektifitas, efisiensi, dan daya tarik. Lihat pada poin pertama dan ketiga! Tidakkah perlu dirubah?! Efektifitas hasil belajar akan ‘setali tiga uang’ dengan efisiensi dan daya tarik pembelajaran.

Tujuan meningkatkan efektifitas belajar haruslah juga berupaya untuk meningkatkan efisiensi hasil belajar. Lalu, apakah cukup bijak jika meningkatkan efektifitas tanpa meningkatkan efisien hasil belajar. Tentunya, menurut saya, menambah jam pelajaran hingga sore hari, justru akan menurunkan efisiensi pelaksanaan pembelajaran. Bahkan memperlama keberadaan peserta didik di sekolah, tentunya akan mengikis kebutuhan anak tentang pendidikan lainnya. Terutama pendidikan informal.

Rencana yang kedua, menurut saya, cukup baik dan sangat muliah. Artinya kita sudah bisa menerapkan pola pendidikan seperti di negara Eropa dan Amerika, yang menerapkan sisitem pendidikan K-12. Rencana ini memang di luar alur sistem yang sama dengan dimensi 1 dan 3. Dimensi ke2 ini mengupayakan terbentuknya masyarakat yang bisa berpikir secara luas, dan bahkan hasil pendidikan K-12 ini bisa menghasilkan SDM yang siap untuk menghidupi dirinya.

Seharusnya, menurut saya, dimensi ke2 ini ditempatkan pada dimensi 1, dan menjadi prioritas utama. Karena ini merupakan amanat UUD, bahwa pendidikan adalah hak semua Warga Negara Indonesia. Sementara peningkatan kompetensi guru dan perpanjangan lama belajar, menjadi usaha nyata untuk mewujudkan pembelajaran yang bermutu. Agar para peserta didik betah untuk menuntaskan wajib belajar 12 tahun.

Walaupun ada nada setuju, tetap saja, ketiga dimensi tersebut harus dipikirkan kembali. Terutama jika dilihat dari segi perkembangan peserta didik yang terus berubah. Bukan siswa yang harus menyesuaikan diri dengan kurikulum, tapi kurikulumlah yang harus menyesuaikan diri dengan siswa.

(mohon maaf jika pesan utama tidak tersampaikan, karena ini coretan pertama saya sejak hampir empat bulan yang lalu. salam dan doa ^^)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s