Premanisme: Suatu Karakter dalam Pendidikan.

Sulit dipercaya ketika mendengar berita-berita mengenai kasus kriminalitas yang dilakukan oleh anak usia sekolah. Bagaimana mungkin pada usia sedini itu, masa remaja awal hingga remaja pertengahan, anak-anak tersebut melakukan pelanggaran nilai dan meresahkan lingkungan melalui tindakan yang tidak bisa dikatakan sebagai hal yang manusiawi. Dari berita kekerasan terhadap remaja seusiannya hingga kepada orang yang lebih tua, bahkan tidak jarang berbuntut pada hilangnya nyawa seseorang, telah menodai nilai-nilai pendidikan di negeri ini. Kasus-kasus kriminalitas remaja usia sekolah tersebut kini menjadi pertanda, apakah nanti kegiatan pendidikan di negeri ini juga akan menghasilkan generasi para preman?

Sekitar dua minggu lalu, penulis benar-benar dikejutkan oleh sebuah berita kriminalitas yang dilakukan oleh pelajar SMP (15 tahun) di Kota Palembang. Dimana pelajar ini membunuh seorang kernet bus setelah menikam teman sekolahnya sendiri dengan menggunakan pisau. Hanya karena kernet bus tersebut menagih ongkos yang kurang, pelajar yang bersama empat temannya ini langsung mengeroyok dan menikamkan pisau kepada kernet bus tersebut. Yang pada akhirnya nyawa kernet itu tak mampu diselamatkan. Kemudian satu minggu setelah berita tersebut, salah satu saluran televisi swasta menayangkan berita kekerasan yang terjadi di sebuah sekolah dasar di Kota Jakarta. Kekerasan tersebut dialami oleh seorang siswa laki-laki, kira-kira setingkat kelas 5 SD. Kekerasan yang dilakukan para temannya tersebut, pada akhirnya menyebabkan korban kesakitan pada bagian (maaf) selangkangan, hingga mengganggu proses pencernaannya.

 

Kasus kriminalitas yang dilakukan oleh para pelajar seperti di atas memang tidak jarang terdengar di media masa, tapi secara logika, hal ini sungguh sangat tidak biasa. Saat ini dimana perputaran informasi tidak mampu dibendung lagi, membuat para pendidik (baik guru maupun orangtua) harus sangat ekstra hati-hati dalam mendidik anak. Faktor-faktor dari luar, seperti pengaruh media yang mengedepankan seks dan kekerasan sebagai jalan pintas penyelesaian masalah-masalah hidup. Ataupun teknologi tinggi yang menyuburkan harapan secara instan, telah menjadi cobaan bagi pelaksanaan pendidikan. Dan juga faktor dari dalam pendidik, seperti sikap dan tingkah guru yang kurang baik untuk ditunjukkan, dan orang tua yang kadang tidak peduli dengan perkembangan anaknya, telah menjadi bom waktu yang siap membentuk karakter yang tidak pernah diharapkan ada pada generasi muda.

Kriminalitas sangat erat hubungannya dengan premanisme (asal kata freeman dan isme, freeman: manusia bebas dan isme: paham), hal ini terjadi akibat dari hilangnya komponen dalam pendidikan negeri ini. Walalupun banyak pendidik berpendapat bahwa “mendidik anak-anak jaman sekarang, berbeda dengan mendidik anak-anak waktu jaman dulu”, tapi tetap anak-anak sekarang membutuhkan apa yang selalu mereka butuhkan. Namun, dalam kegiatan pendidikan saat ini, hal yang dibutuhkan oleh anak-anak tersebut seakan hilang karena ditelan globalisasi dan kebebasan yang merajalela. “Komponen yang hilang tersebut adalah kedekatan dan perhatian orang dewasa yang peduli, yang memberikan curahan kasih sayang, tantangan, dan juga dukungan untuk mereka” (Mendler dalam Alwasilah, 2011:25).

Hal esensi dari kegiatan pendidikan sebenarnya adalah interaksi antara golongan tua dan golongan muda, dimana golongan tua memiliki peran membimbing golongan muda untuk membentuk karakter dan perannya sebagai makhluk individu dan sosial. Kegiatan pendidikan ini akan terjadi jika syarat utama dari terjadinya proses belajar dapat terpenuhi. Sesuai dengan dimensi belajar, syarat pertama terjadinya belajar adalah terpenuhinya rasa berpikir positif dan mencintai satu sama lain. Didasarkan hal tersebut, maka golongan tua (guru dan orang tua) haruslah dapat menciptakan rasa berpikir positif dan rasa kasih sayang dalam melaksanakan pendidikan bagi golongan muda (siswa maupun anak). Tapi kadangkala, justru guru dan orang tua lah yang menunjukkan rasa tidak bersahabat terhadap siswa ataupun anak. Tidak jarang terdengar di media masa, guru dan orang tua menggunakan kekerasan fisik dan mental didalam cara mereka mendidik. Hal ini sangat bertentangan sekali dengan sifat alamiah anak yang ingin selalu disayangi, diperhatikan, dan diayomi.

Komptensi guru sebagai salah satu pelaksana pendidikan telah diatur dengan seksama dalam undang-undang guru dan dosen. Dimana terdapat empat kompetensi yang harus dimiliki seorang untuk menjadi guru yang baik, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi pribadi, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional (UU Guru dan Dosen No.14 Tahun 2005). Jelas sudah tersirat hitam di atas putih, bahwa guru merupakan pekerjaan yang luar biasa kompleks dan berat. Karena itu perlu keseriusan untuk mempelajari dan mengamalkan kompetensi-kompetensi tadi dalam kegiatan pendidikan. Jika kompetensi-kompetensi tersebut telah mampu diaplikasikan, maka negeri ini tinggal menunggu kejayaan yang akan dibawa para generasi penerusnya.

Guru tidak sendirian dalam melaksanakan pendidikan, masih ada orang tua yang memiliki peran paling penting dalam mendidik anak. Keluarga sebagai tempat tinggal anak haruslah dijadikan sebagai lingkungan dan sumber belajar yang mampu mengondisikan pembentukan karakter anak. Orang tua di rumah, perlu menjadi pelaksana pendidikan yang lebih kompeten dibanding posisi seorang guru dalam pembelajaran di sekolah. Karena itu, orang tua sangat perlu memiliki kompetensi ke-orangtua-an dalam melaksanakan pendidikan untuk anak. Perlu adanya pengetahuan dalam mendidik anak yang sesuai dengan ilmu pengetahuan yang berlaku, khususnya mengenai ilmu perkembangan anak, dan tidak semata-mata hanya mengandalkan naluri ke-orangtua-an. Sehingga pada akhirnya, kolaborasi antara orangtua dan guru akan menghasilkan pemuda-pemudi yang memiliki karakter berilmu dan berakhlak mulia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s