Sebait melodi tentang Pak Yusufhadi

jalan-jalan ke pulau bali

jangan lupa main ke candi

alangkah lara, sedih, pilu hati ini

melihat pendidikan masih saja dikebiri

Gara-gara ingin menyelesaikan proposal secepat mungkin, dalam tempo waktu yang sesingkat-singkatnya..he. Saya pun memutuskan untuk kembali ke Malang, walaupun masa liburan masih sekitar satu setengah bulan lagi. Tapi setelah beberapa hari di Malang, saya pun tersadar akan kbodohan saya, ternyata masa liburan memang masih benar-benar dan sunggur-sungguh satu setengah bulan lagi. Keadaan ini diperburuk juga oleh teman-teman kelas yang masih menikmati liburan di daerahnya masing-masing. Dan saya pun bertanya pada diri sendiri “koq saya ada di Malang sekarang ya?”. Yah tapi sudahlah, setidaknya ada kebodohan yang bisa saya tertawakan.

Alhasil, gara-gara niatnya memang ingin menyelesaikan proposal, perpustakaan pun jadi tempat tinggal kedua. Selama dua minggu, tempat duduk di sudut kanan dekat jendela selalu jadi lahan buat saya untuk melanjutkan tidur..*maksudnya ngerjakan tugas..he. Tidak lupa waktu mengerjakan tugas, saya pun memesan segelas capucino dan nasi padang..*eh emang bisa?!^^. Supaya lebih segar mengerjakan proposal di perpustakaan, saya pun memutar lagu Rock dari The Doors, Black Sabath, No Vacancy, dan sebangsanya..*tapi langsung ditimpuk kamus sama pustakawan..hihi. Yah, sebagaimana perpustakaan umumnya, suasana hening dan tenang selalu menyelimuti keadaan didalamnya. Dan setiap orang pun sibuk dengan baca tulis, dan urusan sendiri-sendiri.

Sewaktu mencari tesis dan disertasi di ruang sirkulasi, saya pun iseng-iseng ingin tau karya ilmiah tertua yang pernah dimiliki universitas ini. Setiap lemari ternyata diurutkan berdasarkan tahun karya ilmiah tersebut dibuat, sehingga lemari paling ujung berarti lemari yang menyimpan karya ilmiah yang paling tua tersebut. Mungkin gara-gara sudah lama, dan jarang dibuka orang, pintu lemari tersebut agak susah dibuka dan menimbulkan suara “ngeeett” ketika ditarik gagangnya persis banget di film horror..*ah berlebihan deh..^^. Dan memang benar, karya ilmiah yang berada dalam lemari tersebut sudah berumur hampir lebih dari 4 windu. Karya ilmiah yang paling tua yang saya temukan disana, adalah sebuah Disertasi dengan nomor urut 01 tahun 1975 milik Pak’ Tjokorde Raka Joni (T.Raka Joni) pada bidang Psikologi. Mungkin beberapa pembaca mengetahui sosok tokoh pendidikan nasional satu ini, yang dua bulan lalu telah wafat pada usianya yang ke 73 tahun.

Demi melanjutkan ekspedisi di lemari tua tersebut, saya pun melanjutkan pencarian ke beberapa dokumen lainnya. Mata saya terhenti pada sebuah karya ilmiah yang memiliki tulang buku berwarna orange muda, mungkin karena sudah tua warnanya terlihat menjadi kecokalatan. Di tulang bukunya tertulis kode dokumen tersebut, 14 TEP. Saya pun menariknya keluar dari lemari, karena dokumen tersebut adalah dokumen tertua yang memiliki kode TEP (Teknologi Pembelajaran). Pada sampul dokumen tersebut tertulis judul “SUATU MODEL TEKNOLOGI PENDIDIKAN UNTUK PEMERATAAN KESEMPATAN PENDIDIKAN DI INDONESIADisertasi Oleh: Yusufhadi Miarso.

 

Penasaran adalah satu-satunya yang saya punya waktu melihat disertasi tersebut. Karena sejak berkenalan dengan namanya Teknologi Pendidikan, nama Yusufhadi Miarso benar-benar lekat dengan bidang tersebut. Saya selalu diperkenalkan, bahwa Beliau merupakan Bapak Teknologi Pendidikan Indonesia. Saya selalu diperkenalkan bahwa Beliau juga adalah pelopor lahirnya Teknologi Pendidikan di Indonesia. Beberapa buku tentang beliau pun sepertinya menjadi kitab yang wajib untuk di pelajari oleh para Mahasiswa Teknologi Pendidikan se-Indonesia. Apalagi Buku “Menyemai Benih Teknologi Pendidikan”, selalu saja menjadi sumber rujukan pada hampir seluruh karya ilmiah dalam bidang teknologi pendidikan dan pembelajaran. Tentang beliau saat itu, saya hanya tau sebatas itu dan percaya bahwa beliau memang Bapak Teknologi Pendidikan Indonesia, tapi belum tau kenapa Beliau dikatakan sebagai Bapak Teknologi Pendidikan. Apalagi saya belum pernah sekalipun mengikuti seminar beliau ataupun bertemu dengan beliau.

Setelah membaca beberapa bagian dari disertasi beliau, tampaknya pertanyaan tentang “mengapa Beliau dikatakan sebagai Bapak Teknologi Pendidikan?” menemukan jawabannya sendiri. Tidak banyak yang saya mengerti tentang disertasi beliau, karena pikiran kecil saya belum mampu menampung ide-ide besar tentang kemajuan pendidikan melalui teknologi pendidikan yang beliau kemukakan dalam disertasinya. Tapi setidaknya, beberapa poin penting kenapa teknologi pendidikan lahir di Indonesia ada dalam hasil disertasi beliau. Poin-poin penting yang dikemukakan beliau, membawa teknologi pendidikan pada suatu peran dan fungsi yang seharusnya ada di setiap negara di bumi ini, walaupun poin-poin tersebut memang masih bersifat umum.

Saya mengutip beberapa kalimat dari disertasi Beliau pada bagian latar belakang, yang bertuliskan

Presiden Suharto dalam pidato kenegaraan tanggal 16 Agustus 1975 mengungkapkan suatu kebijakan agar “SKSD (Sistem Komunikasi Satelit Domestik) Palapa dapat membantu perluasan pendidikan ke seluruh pelosok tanah air”. Sedangkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan bahwa “teknologi pendidikan perlu difikirkan dan dibahas terus-menerus karena adanya kebutuhan real yang mendukung pertumbuhan dan perkembangannya, yaitu (1) tekad mengadakan perluasan dan pemerataan kesempatan belajar…”. Kebijakan-kebijakan ini memberikan alasan yang kuat untuk menjajagi tindakan alternatif yang berupa penerapan konsep teknologi pendidikan.

Kesimpulan permasalahan yang saya temukan dalam disertasi beliau adalah permasalahan tentang pendidikan yang belum dapat dirasakan oleh setiap warga Indonesia. Dan permasalahan tersebut sangat mendesak untuk diselesaikan, karena sangat bersinggungan dengan sila ke-5 dalam Pancasila. Oleh karena itu, Beliau mencoba untuk mencari model Teknologi Pendidikan yang tepat, yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Pada kesimpulannya sumber daya manusia dalam Teknologi Pendidikan sangat dibutuhkan dalam merancang suatu sistem yang dapat membuat semua warga Indonesia merasakan pendidikan. Keterbatasan ruang dan waktu adalah suatu permasalahan inti yang harus diselesaikan melalui aplikasi teknologi pendidikan. Dan mengutip dari pendapat beliau, pemerataan pendidikan adalah masalah yang akan terus ada, terutama pada negara Indonesia, yang notabene masih bermasalah pada keadaan sosial-ekonomi dan geografi-demografis.

Jika memang pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan (pembelajaran) menjadi salah satu poin lahirnya Teknologi Pendidikan di Indonesia ini. Bukankah sudah jelas dan nyata, teknologi pendidikan dibutuhkan di setiap daerah di belahan Bumi Indonesia ini. Apalagi  setiap elite politik yang akan maju dalam pemilihan, selalu menyuarakan dalam kampanyenya tentang “pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan”.

Apa yang dapat saya tulis tentang salah satu karya dari Pak Yusufhadi, tidak akan mungkin dapat mewakilkan pemikiran beliau dalam disertasinya. Ini hanya berupa pendapat dan penarikan kesimpulan secara umum. Mungkin dengan bukunya “Menyemai Benih Teknologi Pendidikan”, kita dapat merangkum teknologi pendidikan itu sendiri.

Tapi, apakah selamanya kita akan “Menyemai Benih Teknologi Pendidikan”?. Mungkin sudah saatnya kita untuk “Menyiram dan Memupuk Benih Teknologi Pendidikan”, sehingga pada suatu saat nanti kita dapat “Menuai Benih Teknologi Pendidikan”. Beliau ibaratkan tonggak berdirinya suatu rumah, dan sekarang saatnya kita bangun pondasi-pondasi yang lebih kuat untuk benar-benar memposisikan diri kita pada jalan Teknologi Pendidikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s