Kumpulan Tanpa Aturan

Diobok-obok airnya diobok-obok, ada ikannya kecil-kecil pada mabok.

Disemprot-semprot airnya disemprot-semprot, badanku basah aku jadi mandi lagi...”

 

Inget potongan lirik diatas bukan? lagu tersebut populer sekitar era 90’an, dan menjadikan penyanyinya, Joshua, dikenal seantreo Indonesia. Karirnya pun langsung menanjak, menjadikannya bintang mendadak yang dikenal dan dipuja-puji anak-anak negeri. Lagu “Diobok-obok” pun langsung menjadi theme song disetiap acara ulang tahun anak-anak, karena lagu tersebut membawa pesan dan melodi yang ceria yang membawa kegembiraan disetiap suasana. Tapi tidak taukah anda jika lagu tersebut dipandang melalui sudut sempit belajar, Joshua dan seluruh  anak di negeri ini ingin mengungkapkan perasaan mereka pada gurunya. Ternyata, Joshua dan anak-anak negeri ini saat itu sedang menderita dan sengsara.

Anak yang sudah menginjak usia 5 tahun diperkenalkan oleh orang tuanya tentang sebuah tempat yang dinamakan sekolah, sebuah tempat dimana mereka dapat belajar dengan teman-teman. Lalu, anak-anak pun merasa gembira karena akan masuk sekolah, padahal saat itu mereka tidak tau belajar itu apa dan sekolah itu tempat seperti apa. Mereka hanya tau tentang bermain bersama teman-teman, karena sekolah mereka pikir sama seperti taman kanak-kanak. Pada awal masuk, anak-anak pun merasa gembira, karena memakai baju baru dan mendapatkan teman baru. Mereka gembira karena membawa tas baru, buku baru, kotak pensil baru, kotak makan, dan uang jajan. Pertama kali, merke pikir dengan membawa barang-barang tadi, sekolah bagaikan sebuah tempat piknik.

 

Lalu apa yang terjadi?! Sekolah yang mereka pikir sebagai tempat piknik yang berbahagia ternyata jauh berbeda dengan imajinasi mereka. Mereka berpikir kelas adalah ruang bermain dimana didalamnya ada perosotan, jungkit-jungkitan, taman pasir dan tempat bermain lainnya, tapi ternyata semua itu berbanding terbalik dengan kenyataan. Kelas merupakan ruang segiempat yang hanya diisi dengan bangku dan meja, dan juga ada papan tulisnya. Dimana ketika mereka masuk didalamnya mereka tidak akan bisa keluar lagi hingga bel istirahat berbunyi. Dan didalamnya juga dijaga oleh seseorang yang dipanggil sebagai Guru.

 

Guru dengan kewajibannya sebagai pendidik, memberikan pelajaran, dan mengatur agar keadaan kelas tetap kondusif dan tertib. Jika ada seorang anak berlari-lari didalam kelas maka tugas guru adalah berkata “Duduk! Didalam kelas tidak boleh berlari-lari!” , “Duduk! Jangan berjalan-jalan didalam kelas!” , “Jangan mengganggu teman yang lain!” , dan ketika anak-anak duduk dengan manis maka guru akan berkata “Bagus!”. Dan anak pun mulai mengerti bahwa duduk manis adalah duduk dengan posisi rusuk lurus, kedua tangan dilipat diatas meja, pandangan kedepan, mulut ditutup rapat-rapat, dan perhatian pada gurunya. Sepeti itulah posisi yang mereka harus lakukan sepanjang jam pelajaran sekolah, dan mereka pun mulai merindukan akan bel pulang berbunyi.

 

Tidak berhenti sampai disitu, anak-anak itu dipaksa untuk berteman bersama Pak.Standar Kompetensi, Oom Kompetensi Dasar, dan Mas Indikator Pembelajaran. Anak-anak itu memang tidak mengenal orang-orang tadi, tapi anak-anak itu dipaksa untuk merebut hati orang-orang tadi. Seluruh metodologi, seluruh strategi dipakai oleh Guru untuk membuat anak-anak merebut hati para lelaki tadi. Sungguh ironi, anak-anak yang harusnya dalam masa bermain, telah memiliki kewajiban dan tanggung jawab juga beban yang berat. Karena ternyata semenjak kelas 1 mereka telah mengenal konsekuensi tidak naik kelas.

 

Karena itulah, Joshua dan anak-anak di negeri ini menyanyikan lagu Diobok-obok. Karena mereka merasa didalam kelas, pikiran dan jiwa raga mereka telah diobok-obok sama mata pelajaran-mata pelajaran yang telah dibebankan kepada mereka. Selama 5 – 6 jam di kelas mereka dilatih agar menjadi pribadi yang nurut dan nrimo apa kata gurunya. Sehingga mereka pun mabok gara-gara diobok-obok.

 

Tetapi mereka tetap KUAT untuk belajar, tetap ingin bertahan, demi mengarungi samudra pendidikan yang sudah dibuat untuk mereka arungi. Sebenarnya mereka ingin curhat, dan ingin memberikan pendapat, tapi apalah daya mereka hanya siswa, hanya murid, yang mana harus mendengarkan para gurunya berbicara. Karena mereka tidak bisa curhat pada guru-gurunya, mereka pun lalu curhat pada ayah-ibu mereka, tapi ternyata, ketika anak-anak itu memberikanranking rapotnya yang bertuliskan 31 dan banyak angka 5nya. Ayah-ibu mereka malah memarahinya, “Ko bisa nilaimu jelek-jelek begini?” , “kamu itu belajar apa saja di sekolah?” , “Kamu banyak main sih, gan pernah belajar!” , “Tahun depan kamu harus ranking 1!”. Dan beban mereka pun berlanjut, tak berkesudahan, ternyata apa yang anak-anak harapkan pada orang tuanya sebagai tempat curhat, malah memarahi mereka gara-gara nilai raport.

 

Akhirnya, anak-anak negeri ini pun kembali mencurahkan perasaannya lewat lagu. Dan lagu “Bolo-Bolo” yang dinyanyikan Tina Toon pun menjadi curah perasaan mereka. “Papah Bolo-Bolo, Mamah Bolo-Bolo!“, mereka ingin mengungkapkan bahwa papah mamah mereka boro-boro tidak mau mengerti perasaan mereka, mereka tersenyum walaupun di hati mereka menangis.

 

Cobalah mengerti perasaan mereka, karena bukan hanya wanita saja yang ingin dimengerti, tetapi anak-anak pun selalu lebih ingin dimengerti. Dengarkan apa kata anak-anak (siswa-siswa) kita katakan agar mereka ingin mendengar apa yang kita (guru) katakan. Buatlah kelas menjadi sebuah kumpulan tanpa aturan, dimana setiap anak mampu bermain dengan senangnya, dimana anak bisa merasakan rumus matematika sama seperti bermain dakon. Dimana konsep-konsep IPA sama seperti bermain enggrang. Dimana bahasa bagaikan bermain berbalas pantun.

 

Biarkan mereka dengan caranya sendiri, karena setiap anak pasti memiliki perbedaan, dan perbedaanlah yang membuat mereka sungguh indah. Ibaratkan sebuah Band, didalamnya terdapat Drummer, Bassist, Gitarist, Vocalist, Pianist. Mereka memainkan alat-alat yang berbeda bunyinya, tapi karena perbedaan itulah yang menjadikan sebuah simfoni sebuah lagu enak didengar. Tidak bisa kita bayangkan, kalau didalam satu band, semua pemainnya memainkan drum saja, tentunya lagu itu pun terdengar seperti suara bedug adzan.

 

Untuk para Guru yang selalu merindukan anak-anaknya di sekolah

Malang, 28 April 2011

Salam dan Doa

Om Fifik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s