Guruku, beginikah caramu mencintaiku?

Malam itu, anto bernyanyi dengan kerasnya

“aku rindu belajar, aku rindu sekolah, aku rindu guruku”

Mendengar suara nyanyian anaknya, mamah pun mengetuk pintu kamar anto dan menemuinya. Mamah pun bertanya pada anto

“anto, mengapa kau menyanyi keras-keras seperti itu malam-malam begini nak?”

“oh mamahku, kenapa malam ini waktu begitu cepat berlalu?”

“sepertinya sama saja, memangnya ada apa?”

“besok itu loh mah, pelajaran Pak Muchtaaaaar lagi…”

“tapi kenapa lagumu seperti itu? Bukannya kamu tadi nyanyi ‘aku rindu belajar’?”

“iya benar. Anto bernyanyi seperti itu supaya anto bisa menyenangi pak muchtar, tapi rasanya percuma..huufftt”

“iya sudah, tidur saja, mungkin nanti pagi kamu bisa lebih baik!”

Anto pun tidur, tapi didalam pikirannya tetap saja pak muchtar yang galak guru bahasa inggris itu terbayang-bayang, membuat anto cemas akan hari esok.

Jam menunjukkan waktu 06:05, anto pun terbangun mendengar karena mendengar suara kesibukan di dapur.

“Hah!! Jam enam lewat! Waduh terlambat aku!” anto berteriak dan langsung berlari menuju kamar mandi. Anto mandi tapi tidak pakai gosok gigi, selang hanya 5 menit, dia pun selesai mandi. Anto pun langsung menuju kamar dan berganti seragam sekolah. Tapi sayang, seragam sekolahnya tak ada satupun yang sudah kering total, semuanya masih lembab.

Tanpa berpikir lagi, karena waktu yang sudah terlambat, anto mengambil seragam yang masih lembab itu dan menyetrikanya. Usahanya mengeringkan seragam berhasil, tapi bau hangus karena pakaian lembab yang dipaksa dikeringkan justru tercium menyengat dari baju seragamnya.

Mamah pun terheran-heran meluhat anto yang uring-uringan mempersiakan diri untuk sekolah. Setelah memakai seragam, anto pun langsung pamit pergi menuju sekolah.

“anto, sarapan dulu!!” mamah memanggilnya dari dapur, tapi yang terdengar hanya

“mah, anto pergi dulu!”

Anto berlari-lari menuju angkutan umum, dia sangat takut terlambat masuk, karena jam pelajaran pertama adalah pelajaran bahasa inggris Pa Muchtar. Selama di angkot, anto terus menatap jam tangannya, berharap dia tidak terlambat. Jalanan pada pagi hari itu sangat padat, sehingga angkot yang ditumpangi anto pun berjalan lambat. Jam tangannya memperlihatkan waktu 06:55, artinya 5 menit lagi jam sekolah dimulai dan pintu gerbang ditutup, tapi perjalanan anto masih 450m lagi ke sekolah. Ternyata angkot pun ngetem mencari penumpang, karena hampir terlambat anto pun turun dari angkot dan berlarian ke sekolah.

Tangannya memegang tas, dia berlari dengan kencangnya menuju sekolah. Deru nafasnya berlomba-lomba dengan peluh yang mulai membasahi wajahnya. Gerbang sekolah mulai terlihat, anto menambah kecepatannya berlari. Didepan gerbang sekolahnya, sudah ada Pak Satpam yang mirip preman menunggu dengan tatapan yang murka, rambut cepak ala militer, dan kumis yang tebal. Layaknya penjaga neraka menatapnya dari kejauhan.

Anto terus berlari, tapi sayang, disaat sampai didepan gerbang. Pak satpam menutup gerbang dengan kerasnya, sehingga terdengar suara berbenturan antara teralis besi itu. Anto menatap pak satpam dengan memohon, berharap pak satpam memberikan toleransi. Tapi pak satpam tidak bergeming, malah menunjukkan senyuman kemenangan karena telah menangkap basah  seorang yang terlabat masuk sekolah. anto terduduk didepan gerbang, mengusap-usap keringatnya yang membanjir. Hari itu dia terlambat bersama 5 siswa lainnya.

Seorang guru piket datang menuju gerbang sekolah, dia menatap para siswa-siswanya yang terlambat. Guru piket itu memberikan isyarat mata kepada pak satpam untuk membuka gerbang. Gerbang pun dibuka, tapi para siswa yang terlambat itu digiring ke ruang guru. Siswa-siswa itu dibariskan untuk didata. Sebuah buku hitam pun dikeluarkan oleh guru piket. Dan satu per satu siswa yang terlambat dicatat namanya lalu diberikan poin sanksi, TERLAMBAT = 15 poin., termasuk anto.

Keenam siswa yang terlambat itupun mendapatkan ceramah dari wakasek agar tidak terlambat. Akhirnya satu per satu mereka diberikan secarik kertas izin dari guru piket untuk masuk didalam kelas. Anto pun berjalan lunglai menuju kelas, secarik kertas izin pun dia pegang.

Anto mengetuk pintu kelas, mengalihkan perhatian Pak Muchtar yang sedang mengajar. Pak Muchtar menatap anto yang masih berdiri didepan pintu. Dia menunjuk anto dan menggoyangkan jarinya untuk memberikan isyarat masuk.

Anto berdiri didepan Pak Muchtar, dan berkata “maaf pak, saya terlambat”

Pak Muchtar pun bertanya “mana surat izinnya?”

Anto memberikan secarik kertas izinnya, pak muchtar memastikan kertas itu asli dari guru piket.

“kenapa kamu terlambat?” pak muchtar bertanya, anto tidak berani menatap wajah pak muchtar.

“dijalan macet pak”

“kalau sudah tau macet kenapa kamu tidak berangkat lebih pagi?” pak muchtar menyalak

“saya..saya…saya baru tau macet waktu dijalan pak, waktu di rumah saya tidak tau kalau akan macet.”

“berani membantah!!!” pak muchtar menegurnya dengan keras

“mana tugas rumah mu?”

Anto membuka tasnya. Anto terkejut, ternyata bagian tas bawahnya bolong, dan beberapa buku yang dipersiapkan dari rumah tidak ada didalamnya, termasuk buku PR bahasa inggris.

“maaf pak, bukunya tadi saya bawa. Tapi tas saya bolong, mungkin terjatuh di jalan”

“allasan saja bisanya..kamu itu ya, sudah terlambat, tidak mengerjakan tugas, baju berantakan, alasannya macam-macam. Kamu itu tidak bisa diatur ya?! Teman-teman lainnya datang tepat waktu, kamusendiri tidak. Teman-temanmu mengerjakan tugas, kamu malah melalaikannya. Dasar! Sudah taruh tas kamu dimeja”

Wajah anto pucat, karena pagi ini sudah 2 kali dia mendapatkan ceramah. Anto menaruh tas di bangkunya, lalu diapun duduk.

“heh, kata siapa kamu boleh duduk! Saya bilang taruh tasmu di bangku, kamu berdiri di depan kelas. Cepat!”

Anto terkejut, ternyata hukumannya masih ada untuknya.

Anto pun bediri didepan papan tulis, wajahnya tertunduk, seolah-olah tidak punya keberanian untuk menatap teman-temannya. Teman-teman sekelasanto pun kasihan kepadanya, sementara pak muchtar berkata “Bagus,berdiri selama jam pelajaran saya!”

Sambil berdiri anto pun bersenandung dalam hati

“teganya-teganya engkau guruku.

Mati-matian aku mandi gak pake gosok gigi…

Sarapan pun aku tidak, demi datang tepat waktu…

Bajupun aku paksakan setrika, hanya untuk keseragaman…

Dasar angkot sialan, pake ngetem segala…

Satpam seperti tukang pukul menanti depan gerbang…

Sementara guru piket datang bawa buku hukuman…

Wakasek pun ceramah panjang lebar…

Dan engkau guruku, masih juga menghukumku…

Aku mati-matian siapkan semuanya, tapi ini balasannya

Guruku, beginikah caramu mencintaiku???”

(Sekolah merupakan tempat pendidikan karakter bagi seluruh siswanya, agar siswa memiliki karakter yang diharapkan oleh masyarakat secara umum. Sekolah bukan camp militer yang segala sesuatunya harus ada pujian dan hukuman. Siswa-siswa disekolah bukanlah masyarakat yang sedang menjalani wajib militer. Mereka justru adalah masyarakat yang membutuhkan panutan, bimbingan, dari para guru dan pengelola sekolah. Bijakkah ketika masih ada hukuman di sekolah?? Apakah iya buku hitam masih diperlukan dalam pendidikan?? Tidakkah penghargaan akan lebih memberikan semangat daripada hukuman?? Yang mana yang kita inginkan terhadap siswa, motivasi negatif atau motivasi positif??)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s