Berbalas pantun : Suatu Strategi Budaya untuk Meningkatkan Kemampuan Verbal Linguistik Emosi Manusia

Sebagai orang yang lahir di Sumedang, besar di Palembang, dan saat ini tinggal di Malang, beberapa kekayaan budaya ketiga daerah tersebut sudah dicicipi walaupun sangat sangat sedikit. Terutama untuk daerah terakhir, mungkin hanya 1 atau 2 jenis kebudayaan yang pernah tersentuh. Walaupun sangat sangat sedikit, tapi dari yang sedikit itulah sering muncul ide dan gagasan baru untuk diungkapkan kembali bahkan sampai di renovasi secara utuh sebagai satu cerita baru nan segar.Ketiga kebudayaan daerah tersebut tentunya telah mengukir setiap sudut diri ini untuk menjadi manusia Indonesia seutuhnya. Dan salah satu budaya daerah yang paling dominan memberikan pengetahuan dan pengajaran diantara ketiganya adalah Kebudayaan Palembang. Ya, hidup kurang lebih 17 tahun di Kota Palembang telah memberikan makna tersendiri untuk mengenal kota yang dulunya bernama Swarna Dwipa ini. Jika dilihat secara sejarah, kebudayaan masyarakat Kota Palembang (Ibukota Prov.Sumatera Selatan) sangat identik dengan kebudayaan masyarakat Melayu, karena masyarakat Kota Palembang merupakan etnis Melayu.

Salah satu kebudayaan, dalam sub bagian kesenian, yang terkenal sepanjang masa masyarakat Kota Palembang adalah kesenian berbalas pantun. Kesenian berbalas pantun ini sering digelar ketika ada acara daerah atau pernikahan dengan adat daerah asli Palembang. Sewaktu duduk di bangku SMA, ketika menjadi panitia sebuah pernikahan tradisional, di pernikahan itu digelar acara berbalas pantun. Acara berbalas pantun tersebut dilakukan ketika kedua mempelai telah duduk di panggung pengantin. Seorang lelaki berbaju adat Palembang naik ke atas panggung dari sebelah kanan panggung, dan seorang perempuan berbaju adat Palembang juga naik dari sebelah kiri panggung. Dengan diiringi musik khas melayu, kedua orang tersebut saling berbalas-balas pantun. Pantun yang mereka katakan merupakan pantun-pantun yang mengandung petuah orang-orang dulu untuk mereka yang akan memulai hidup berumah tangga. Setiap tamu yang berada dalam gedung tersebut pun dengan cermat mendengar setiap patah kata yang terucap. Kata-kata berima a.b.a.b yang diucapkan memberikan keindahan tata bahasa tersendiri dengan tidak mengurangi makna petuah tersebut.

Saya ingat disalah satu stasiun televisi (TVRI daerah Sumsel) selalu menayangkan kesenian berbalas pantun dengan format yang lebih modern. Berbalas pantun digabung dengan format acara sitkom (situasi komedi) daerah Palembang, nama acara tersebut kalau tidak salah adalah Dul Muluk. Didalam acara tersebut, banyak sekali pantun yang disebutkan oleh pemainnya. Kebanyakan dari pantun-pantun itu memiliki makna kehidupan sehari-hari masyarakat Kota Palembang, seperti halnya kehidupan di Sungai Musi, berbelanja di Pasar 16 ilir, ataupun tentang masakan pe’empek, tekwan,dll. Dan pada akhir acara tersebut, datanglah seorang tua yang dijadikan pengambil kesimpulan atas cerita, tentunya juga menyimpulkan dengan cara berpantun.

Berpantun bukanlah sekedar melontarkan bahasa agar enak didengar, tapi lebih dari itu. Berpantun adalah media mengungkapkan emosi jiwa dengan tutur kata yang dipilh dan terjaga. Saya teringat ucapan seorang sastrawan disaat acara bedah buku di Kota Malang, “seorang penulis memang dapat menulis hingga berpuluh-puluh hinga beratus-ratus halaman. Tapi hanya seorang sastrawan yang bisa menceritakan segalanya hanya dalam satu paragraf kecil”. Sama halnya dengan pantun, pantun hanyalah susunan kata yang tidak lebih dari 4 baris pendek. Tapi didalamnya terisi puluhan halaman tentang petuah hidup dan ungkapan hati manusia.

Kemampuan berpantun bukanlah suatu hal yang muskil terbentuk disetiap orang. Setiap orang mampu melatihnya dengan sangat baik, hanya perlu terus latihan merangkai kata dengan cepat dan tepat. Latihan ini dengan sendirinya akan memperbanyak kosakata dan kemampuan verbal linguistic kita. Sehingga tentunya akan berpengaruh pada tutur kata dan tulisan-tulisan kita disaat menulis tugas ataupun lainnya.

Pada peringatan Hari Pers Nasional tahun 2010 yang dilaksanakan di Kota Palembang, Presiden RI, Pak Susilo Bambang Yudhoyono, datang menghadiri acara tersebut. Pada acara tersebut hadir pula Para Menteri di Kabinet Indonesia Bersatu, Ketua DPR MPR RI, para Gubernur, tamu undangan dari negara lain, dan ribuan wartawan. Pada peringatan Hari Pers Nasional yang dilaksanakan disebuah hotel megah tepat di pusat Kota Palembang itu, terjadi hal yang sangat menarik. Setiap pejabat yang memberikan sambutan pembukaan, pasti mengakhirinya dengan sebuah pantun.

Pertama, Margiono (Ketua Persatuan Wartawan Indonesia) mengakhiri kata sambutannya, sekaligus menyatakan perang pantun, dengan berpantun singkat:

Wartawan makan sirih, cukup sekian terima kasih”, kontan saja tawa terdengar mengisi ruang hotel dan tepuk tangan dari para hadirin.

Seolah tak mau kalah, Pak Alex Noerdin (Gubernur Sumatera Selatan), yang memberikan sambutan kedua pun mengakhiri kata-katanya dengan berpantun:

Bunga se-lasih di atas nampan, terima kasih para wartawan

Kata sambutan yang ketiga diberikan oleh Pak Tifatul (Menkominfo). Kali ini Pak Tifatul memberikan banyak sekali pantun, ada yang diawal dan ada yang diakhir. Diawal pembukaan, salamdari Pak Tifatul tidak disambu meriah oleh para hadiri, sehingga beliau pun mengeluarkan jurus:

Bulan Ramadhan bulan Selamat, bulan Zulhijjah bulannya Haji. Kalau salam tidak dijawab dengan semangat, kita ulangi sekali lagi”, para hadirin pun tertawa dan menjawab salam kedua beliau dengan semangat yang lebih.

Dan pada akhir sambutannya, Pak Tifatul berpantun:

Pak Syofan memegang tasbih, cukup sekian wartawan, dan terima kasih”. Nah, sambutan terakhir adalah dari Presiden RI, Pak Susilo Bambang Yudhoyono.

Setelah memberikan pidato dan pesan kepada dunia pers nasional, Pak SBY pun menutupnya dengan sebuah pantun:

Burung Kedasih terbang dari Pagaralam hingga ke Sekayu, terima kasih para wartawan dan thank you“. Sungguh pidato yang manis dan seluruh hadirin pun memberikan standing applause untuk Pak SBY.

Itulah sedikit cerita tentang salah satu kebudayaan bangsa kita yang pastinya tidak dimiliki oleh bangsa lain. Yang ingin sekali disampaikan adalah, kebudayaan merupakan harta yang mahal harganya tapi sifatnya tidak sama seperti emas ataupun berlian. Emas atau berlian adalah harta yang harus tetap disimpan agar keindahannya terjaga. Tetapi kebudayaan adalah harta yang keindahannya akan terus bersinar jika terus digunakan dan akan melebihi sinarnya emas dan berlian. Jika berpantun terus dilestarikan tentunya akan membantu kita merobohkan tembok batas kata-kata yang sering melemahkan kita dalam bercerita.

Jalan-jalan ke rawa-rawa
Jika capai duduk di pohon palm
Geli hati menahan tawa
Melihat katak memakai helm

Limau purut di tepi rawa,
buah dilanting belum masak
Sakit perut sebab tertawa,
melihat kucing duduk berbedak

2 thoughts on “Berbalas pantun : Suatu Strategi Budaya untuk Meningkatkan Kemampuan Verbal Linguistik Emosi Manusia

  1. terima kasih atas postnya. kebetulan sedang mencari info tentang budaya pantun di palembang untuk perkuliahan pendidikan berbasis budaya. kalau boleh saya minta izin menggunakan tema postnya sebagai sumber untuk presentasi saya. terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s